Sabtu, 13 April 2013

TEMPAT WISATA DI KOTA SURAKARTA





Keraton Surakarta adalah simbol dan cikal bakal kota Surakarta atau lebih dikenal kota Solo.  Keraton Surakarta, atau dalam nama resminya Keraton Surakarta Hadiningrat, merupakan sebuah tempat bersejarah yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke kota Solo. Dibangun secara bertahap sejak didirikan pertama di tahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II, menjadikan Keraton Surakarta sebuah tempat yang eksotis juga menyimpan banyak nilai sejarah.
Secara fisik Keraton Surakarta memiliki banyak kesamaan dengan Keraton Yogyakarta dalam hal pola dasar tata ruang, dikarenakan salah satu arsiteknya adalah Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I, yang juga menjadi arsitek utama keraton Yogyakarta. Kesamaan pola tata ruang sangat jelas terlihat pada letak alun-alun yang berada di utara dan selatan Keraton.
Jaman keemasan Keraton Surakarta dialami pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X di tahun 1893-1939. Keraton Surakarta melakukan restorasi besar-besaran, dengan percampuran gaya arsitektur antara Jawa dan Eropa dalam nuansa putih dan biru.
Keraton Surakarta terletak tepat di pusat kota, berdekatan dengan beberapa landmark kota Solo, seperti Balaikota, Pasar Klewer dan Pasar Gede. Beragam sarana transportasi bisa digunakan untuk menjangkau lokasi, terutama sarana transportasi tradisional seperti becak dan andong.

Pura  Mangkunegaran atau Puro Mangkunegaran dalam pelafalan bahasa Jawa, adalah salah satu istana yang ada di kota Solo, meskipun bentuknya lebih kecil dari Keraton Surakarta, namun keindahannya masih terlihat hinggaga sekarang. Seperti yang disebutkan di berbagai sumber, Pura Mangkunegaran dibangun setelah Perjanjian Salatiga di tahun 1757. Sama halnya seperti Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran juga mengalami perubahan pada arsitektur bangunannya, yang bisa dilihat dari percampuran gaya Eropa di beberapa bagian bangunan. Diperkirakan bentuk Pura Mangkunegaran yang sekarang ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara II yang memerintah antara tahun 1804-1866.
Di sini juga pengunjung diajak untuk menelurusi jejak sejarah dan peninggalan yang mengagumkan, karena selain bangunan yang indah, Pura Mangkunegaran juga menyimpan koleksi buku dan sastra. Semuanya tertata di Rekso Pustaka ( Rekso Pustoko, dalam lafal Jawa) yang dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro IV, untuk menjaga khazanah ilmu yang berkembang di Pura Mangkunegaran.
Pura Mangkunegaran ini terletak di pusat kota Solo, sehingga mudah untuk dijangkau dengan berbagai sarana transportasi. Tepatnya terletak diantara Jl. Ronggo Warsito, Jl. Kartini, Jl. Siswa dan Jl. Teuku Umar.


MOSEUM RADYA PUSTAKA


Museum yang terletak dekat Taman Sriwedari ini merupakan salah satu museum tua, bahkan yang tertua di Indonesia. Didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada masa pemerintahan Pakubuwono IX. Tepatnya di salah satu ruang di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kemudian pada tanggal 1 Januari 1913 dipindahkan ke lokasi yang sekarang ini, di Jalan Slamet Riyadi. Sebelumnya, gedung museum tesebut merupakan kediaman Johannes Busselaar, seorang warga Belanda, yang kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono dan dijadikan sebagai lokasi museum yang baru
Museum ini tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala atau Dinas Pariwisata Pemerintahan Kota setempat, namun berstatus yayasan yang bernama Yayasa Paheman Radya Pustaka Surakarta yang dibentuk pada tahun 1951. Selain itu seorang tokoh budayawan ternama, Go Tik Swan atau juga dikenal dengan KRT. Hardjonagoro, yang dikenal dengan sebagai pencipta motif batik nusantara, juga memberikan kontribusi yang besar untuk perkembangan museum ini.
Banyak sekali benda-benda bersejarah yang menjadi koleksi Museum Radyapustaka yang memberikan informasi-informasi berharga, meskipun sempat tercoreng dengan kasus pencurian. Tentunya ini menjadi catatan khusus bagi pihak pengelola.
Sebelum memasuki bagian dalam gedung, di halaman terdapat patung torso dari pujangga ternama, di masa Paku Buwana VII, Raden Ngabehi Rangga Warsito. Sedangkan di bagian dalam adalah patung torso Sosrodiningrat VI, pendiri Museum Radya Pustaka. Benda-benda koleksi Museum beberapa merupakan hadiah-hadiah dari tamu-tamu kenegaraan , misal beberapa porselen hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Sri Susuhunan Paku Buwana IV.
Museum Radya Pustaka bisa menjadi pilihan wisata bagi anda yang ingin melihat kota Solo di masa lampau. Lokasi yang mudah dijangkau dan pilihan transportasi yang memadai, tentu bisa menjadi nilai plus untuk berkunjung ke sana.



Taman kota idealnya merupakan ruang public yang harus disediakan di setiap kota. Disamping sebagai ruang public untuk sekedar bersantai atau menikmati  udara segar, taman kota juga menyimpan banyak kegunaan dan fungsi selain untuk tempat piknik. Sebagai paru-paru kota dan juga area resapan air, taman kota juga berperan penting dalam kelangsungan hidup sebuah kota.
Taman Balekambang merupakan taman kota seluas 9,8 Ha yang dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara VII. Taman ini dibangun untuk putrid-putri tercinta, yaitu GRAy Partini Husein Djayaningrat dan GRAy Partinah Sukanta, yang figure keduanya bisa dilihat pada patung yang ada di dalam taman Balekambang. Maka dari itu area taman Balekambang ini pun dulu dibagi menjadi dua, yaitu Partini Tuin dan Partinah Bosch. Partini Tuin atau Taman Air Partini terdapat kolam resapan yang luas dan juga berfungsi untuk penampungan air. Kolam ini juga bisa digunakan untuk wisata air dengan menggunakan perahu.
Sedangkan Partinah Bosch atau Hutan Partinah merupakan area yang dipenuhi dengan berbagai tanaman dan pohon-pohon langka, seperti kenari, beringin putih dan lain sebagainya. Partinah Bosch berfungsi sebagai paru-paru kota. Dahulu taman Balekambang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga dan kerabat istana mangkunegaran. Kemudian pada masa KGGPA Mangkunegara VIII, taman ini dibuka untuk umum. Dengan diselenggarakan pula berbagai hiburan rakyat seperti ketoprak lesung.
Antara tahun 70an hingga akhir 80an, di kompleks taman Balekambang terdapat gedung yang digunakan sebagai tempat hiburan, yaitu panggung Srimulat. Bahkan aksi panggung Srimulat ini menjadi primadona hiburan kota Solo di masa itu.  Kini setelah revitalisasi pada tahun 2008, taman Balekambang kembali pada fungsi aslinya, menjadi taman kota. Taman Balekambang tidak hanya menjadi tujuan warga Solo, namun juga menjadi tempat tujuan wisata bagi wisatawan domestic maupun luar.
Sekaten adalah festival rakyat tahunan yang diadakan pada tiap tanggal lima pada bulan Jawa Mulud  yakni bulan yang ketiga, sesuai dengan sistem kalender Jawa. Festival Sekaten Solo didedikasikan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Festival ini dimulai ketika dua gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari mulai dikumandangkan untuk gending ( komposisi musik Jawa) Rambu dan Rangkur. Berdasarkan sejarah, gending ini diciptakan oleh Wali Sanga di abad ke-15 untuk menarik orang-orang dalam penyebaran Islam. Untuk menarik perhatian orang, gamelan yang dibuat ulang dengan ukuran lebih besara agar suara berkumandang lebih keras agar menjangkau  orang-orang lebih jauh.
Sekaten berasal dari kata syahadatain atau syahadat. Syahadatain adalah dua kalimat yang diucapkan seseorang ketika akan memeluk agama Islam. Kalimat pertama adalah pengakuan kepada Allah yang dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Madu, sedangkan kalimat kedua  adalah pengakuan bahwa Muhammad SAW sebagai utusan Allah dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Sari. Pada masanya, Wali Sanga mendakwahkan Islam selama tujuh hari berturut-turut (Malam Sekaten) dengan latar gending gamelan.
Sekarang ini, selain untuk mempertahankan budaya Jawa, Sekaten juga bertujuan untuk memenuhi sektor ekonomi dan pariwisata di area Solo. Beberapa ritual atau yang biasa dikenal sebagai Grebeg Mauludan masih dilestarikan sebagai tradisi dan daya tarik untuk menarik perhatian para wisatawan.

Batik merupakan warisan budaya yang penting untuk dilestarikan. Bahkan UNESCO telah mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia. Danar Hadi merupakan salah satu produsen batik yang terkenal di kota Surakarta. Selain memproduksi batik dan melakukan inovasi produk, Danar Hadi juga melestarikan budaya yang adiluhung ini dengan mendirikan sebuah museum, yaitu Museum Batik Kuno Danar Hadi.
Beragam corak, motif dan jenis kain batik dari seluruh nusantara menjadi koleksi Museum Batik Kuno Danar Hadi. Koleksinya bahkan mencapai 10000 helai kain batik, sehingga museum ini diakui oleh MURI (museum rekor indonesia) sebagai museum yang mempunyai koleksi kain batik terbanyak.
Dibuka pada tahun 2002 oleh wakil presiden Megawati Soekarnoputri, museum ini menyimpan berbagi corak dan motif kain batik beserta nilai-nilai sejarahnya. Kain batik belanda merupakan salah satu koleksi penting Museum Batik Kuno Danar Hadi. Kain ini dipengaruhi oleh ragam corak dan warna khas eropa, yang dibawa oleh orang-orang Eropa pada masa penjajahan belanda. Selain itu terdapat motif batik Djawa Hokokai. Jenis kain batik ini dipengaruhi oleh ragam corak dan warna khas jepang, di mana pada masa itu menjajah Indonesia. Perpaduan corak budaya ini menjadikan kain batik Djawa Hokokai semakin unik dan indah.
Museum Batik Kuno Danar Hadi, selain menjadi tempat menyimpan kain-kain yang tidak ternilai harganya, juga memberikan informasi sejarah dan budaya untuk semua pengunjung.

Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari merupakan arena hiburan yang cocok untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa. Masyarakat maupun wisatawan dapat menghabiskan liburan atau menikmati kebersamaan dengan keluarga dengan biaya  yang terjangkau.
THR Sriwedari, berada di dalam kompleks taman Sriwedari, berlokasi di Jl. Slamet Riyadi 275, jalan protokol di kota Solo. Ada beragam wanaha seperti mobil senggol, kereta mini, mini outbond, lautan balon dan lain-lain yang bias dinikmati oleh anak-anak. Untuk menarik minat pengunjung dewasa, pada hari-hari tertentu rutin digelar acara musik seperti Koes Plus, Dangdut Mania dan lain-lain.

Pasar Klewer merupakan pusat tekstil dan sandang di kota Solo. Pasar yang identik dengan kota solo ini menawarkan beragam kain dan aneka sandang, terutama batik. Pasar Klewer tidak hanya sebagai pusat perekonomian saja, namun juga tujuan wisata belanja dan landmark kota Surakarta.
Pasar Klewer dirintis sejak masa penjajahan Jepang, di mana banyak orang yang menjajakan kain dan pakaian dengan cara digantungkan di pundak. Karena dagangannya menjuntai tidak beraturan atau “kleweran”. Dari kata kleweran itu nama Pasar Klewer diambil. Pasar Klewer sudah mengalami beberapa kali perombakan pasar, untuk menyesuaikan dengan perkembangan pasar.
Pasar Klewer ini terletak di sebelah barat Gapura Keraton Kasunanan Surakarta dan di sebelah selatan Masjid Agung. Selain pedagang kain, di sekitar Pasar Klewer juga terdapat penjual makanan yang khas yang juga menjadi tujuan wisata kuliner.



Pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat untuk mencari segala rupa kebutuhan sehari-hari atau sayur mayur, namun juga menjadi bangunan ikonik sebagai tujuan wisata. Solo mempunyai banyak pasar tradisional, salah satunya ada Pasar Gede.
Pasar Gede Hardjonagoro secara harafiah berarti pasar besar,karena pasar ini merupakan pasar yang terbesar di kota Solo. Pasar ini selesai dibangun pada tahun 1930 oleh arsitek berkebangsaan Belanda,bernama Ir. Thomas Karsten. Namun Pasar Gede juga mengalami beberapa kali renovasi, karena pada tahun 1947 mengalami kerusakan akibat perang pada masa Agresi Militer Belanda. Dan juga pada tahun 1999, akibat konflik.
Pasar ini unik karena bangunannya merupakan perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda, sehingga pasar ini juga merupakan tujuan wisata kota Solo. Pasar Gede terletak di pusat kota Solo, berdekatan dengan Balaikota Surakarta.
Pasar Gede juga terletak di area Pecinan, sehingga beberapa bangunan di sekitarnya merupakan bangunan khas Pecinan. Selain itu juga tampak adanya Klenteng di sebelah selatan Pasar Gede, yang bernama  Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie.


 Museum Sangiran merupakan museum arkeologi yang terletak di sebagian wilayah Kabupaten Sragen dan sebagian di wilayah Kabupaten Karanganyar. Museum ini berada di wilayah situs sangiran sehingga menjadikan museum Sangiran sebagai objek wisata juga tempat penelitian tentang kehidupan prasejarah.

di Museum ini anda bisa mendapatkan informasi yang cukup lengkap mengenai kehidupan pra sejarah, mulai dari species manusia pra sejarah dan juga pola kehidupannya. Museum Sangiran bisa menjadi pilihan wisata sejarah dan pendidikan untuk semua kalangan.
Museum Sangiran terletak sekitar 17 km dari kota Solo ke arah utara, melintasi jalan Solo-Purwodadi.




0 komentar:


Putra Agung Tour Travel

# FORMAT RESERVASI / SMS BOOKING :
KIRIM SMS ATAU WHATS'APP ANDA

Ketik : BOOKING - NAMA - ALAMAT JEMPUT - NO.HP - JUMLAH ORANG - TGL. KEBERANGKATAN (PAGI/MALAM) - KOTA TUJUAN.
Contoh : (Booking - Heru - Jln. A. Yani No 01, Surabaya - 081234XXX - 2 org - 01 Januari 2017 Malam - Jln. Malioboro No 01, Jogjakarta)

Apabila tidak ada balasan konfirmasi dari kami silahkan hubungi
HOTLINE : 0812 1718 1848 ( Call )
sms booking dianggap sah apabila sudah ada balasan & konfirmasi kesepakatan antara
pihak travel & penumpang.